Trip to Banyuwangi-Bali
Assalamualaikum....
hey hey I want to share about my last travelling in Banyuwangi and Bali, exactly this s my promise to give you some tips on how travelling in Banyuwangi and Bali as a backpacker. maybe you can find others blog discuss that vacation but I want to share my experience how girls can be the backpacker too, not only men. mostly these blogs are written by man :)
Okay Here we go,
Aku dan Temanku, seorang perempuan juga, memutuskan untuk pergi berlibur disela-sela kegiatan profesi diawal tahun ini. kita memutuskan untuk pergi ke Banyuwangi menggunakan kereta, namun terlalu sayang sudah sampai ujung timur jawa tapi tidak menyempatkan ke pulau Dewata, yasudah we agree to cross over selat Bali :). it's called nekad decision we made. kita hanya berdua untuk pergi ke kedua tempat asing yang bahkan diantara kami belum pernah mengunjunginya daaaaan we use train as our transportation ): . it took 23 hours in the Train from Jakarta and 3 hours in the station for transite (; don't ask how tired it was, cause we enjoyed it so we don't feel anything except curious and happy (:
we make train reservation saat awal pembukaan pemesanan kereta, hmmmm in September I think. ini berguna untuk memilih tiket kereta yang murah karena selang beberapa hari aja tiketnya sudah sold out dengan tujuan yang sama. waktu itu ada drama salah reservasi tanggal dan saat ingin merubah ternyata yang untuk akhir tahun sudah sold out, mau tidak mau kita mundurin jadwal. but its oke only one day.
Saran untuk travelling banyakin baca dari orang-orang yang sudah pernah kesana bisa blog bisa kaskus or you can ask people around you who ever visited the place which you direct for. daaaaan don't forget to make a plan!! meskipun aku nggak yakin akan terlaksana 100% dan timing nya sesuai tapi minimalnya kalean nggak akan bingung kemana dan mau ngapain. you can reservation to Jakarta-Surabaya (104K) then Surabaya-Banyuwangi ex Karangasem (56k).
Day one, kita sampai di Banyuwangi kurang lebih jam 12 an, kemudian Kita sudah reservasi homestay via Traveloka namun belum acc akhirnya kita datangi langsung homestaynya, sebelumnya kita sudah pesan motor untuk di sewa namun saat tiba masnya mendadak tidak bisa dihubungi sepertinya matiin Hp, yaudah akhirnya kita nyewa motor di depan stasiun dan pergi ke tempat homestay. saat kami sampai ternyata homestay tsb sudah tutup namun dari traveloka belum dihapus. alhasil nyarilah kita homestay lainnya. sampailah kita di tempat Ibu penjual makan depan stasiun persis. Beliau sangat ramah dan baik. kita menginap di homestay yang beliau jaga, Oiya didekat stasiun karang asem itu ada SMKN nah warung makan didepannya enak dan murah 5rb udah dapat nasi campur dan telur dong, jauh lah kalo dibanding Jakarta, yaiyalah wkwkk. actually, hari pertama kita akan mengunjungi 2 tempat wisata namun karena sudah lelah nyari-nyari homestay kita keluar sekitar jam 5 sekalian menunggu hujan reda. target pertama kita adalah desa wisata Osing, tidak jauh dari homestay kami kurang lebihnya hanya 3 KM. kita kesana sudah maghrib dan saat sampai sana ZONK karena sudah tutup 😞 yasudah kita lanjutkan ke tempat kedua yaitu Kawah Ijen, sebelumnya kita makan malam dulu sampai sekitar jam 20.00 kemudian kita ke Paltuding (area awal mendaki ke Ijen). kita banyak menemukan blog yang mereka berangkat jam 12 malam, namun kita memutuskan untuk berangkat lebih awal karena beranggapan bahwa jam 12 malam berbahaya untuk anak-anak perempuan seperti aku dan temanku. kita sudah men-setting google map untuk sampai ke area paltuding dan berangkatlah kita. selama perjalanan lancar tidak ada kendala apapun, 45 menit berlalu dari google map menunjukan bahwa kita sudah sampai di area paltuding namun kami tidak melihat apapun kecuali kegelapan malam dalam hutan, jadi jangan bayangkan area menuju paltuding seperti di Wonosobo atau Cipanas yaa, nah ini yang menjadi kesalahan kami. kami berangkat lebih awal supaya kami terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan namun nyatanya kami salah. kami merasa sangat takut mengingat di tengah-tengah hutan tidak ada sinyal dan bensin kami sudah menunjuk E pada spidometer. kabut tebal terun di beberapa titik dan jarak pandang kurang dari 5 meter dan di hutan yang gelap itu hanya ada aku dan temanku. kita bingung dalam menghadapi situasi tsb jika kami memutuskan untuk kembali kami tidak yakin dengan persedian bensin motor kami dan jika kita lanjut kita tidak tahu medan yang akan kita hadapi, namun akhirnya kami tetap lanjutkan kalaupun hanya memutari hutan gunung tsb minimalnya kami akan menemukan desa selanjutntya untuk mengisi bensin kami. setelah 43 menit berlalu kita sampai di sebuah tanah cukup luas dan banyak warung dan ternyata kami sampai ke Paltuding, senang bukan kepalang kami mengetahui bahwa kami tidak mati di dalam hutan.
TIPS jam normal untuk menuju paltuding adalah jam 12 jadi isi energi di homestay, hotel, atau home in dengan tidur dulu. kemudian jika kalian hanya berdua apalagi cewek berhenti ke pos desa dipertiigaan untuk membayar pajak retribusi, nah kalian bisa nunggu teman barengan menuju paltuding disana. oiya dari google maps jarak paltuding masih jauh banget jadi don't believe to google maps lebih baiknya menunggu di pos pembayaran retribusi itu tadi aja :)
setelah drama panjang menuju paltuding, akhirnya kami naik ke kawah ijen. dibuka jam 1 malam nah kalian bisa kesana bareng sama penambang belerang dan kawan-kawan yang lain. disana ada namanya ojek gerobak. jadi kalo males nanjak bisa naik ojek itu. kalo di Bromo biasanya kuda nah kalo disini penariknya adalah manusia. hmmm nggak tega deh mau naik nya but mereka akan senang menerimanya. perjalanan menuju puncak dan turun lagi ke kawah nya tidak ada kendala. awalnya aku mikir untuk tidak menyewa masker karena mungkin nggak jauh beda dengan di tangkuban perahu atau kawah Sikidang but it's so different, ini asapnya bener-bener nusuk hidung. it feels like di ungkep dalam kamar yang berisi penuh belerang omegad finally pinjam masker dong although aku nggak yakin dengan kebersihannya 😟. setelah sampai kawah ternyata zonk lagi karena tidak melihat blue fire yang terkenal sampai mancanegara itu. alhasil saat kami duduk diantara batu besar seorang bapak-bapak penambang belerang mendatangi kami dan membuatkan kami blue fire dari belerang yang di bakar. hal tsb menarik banyak orang menuju kami dan memfotonya
kalo menurut keterangan warga setempat sebaiknya datang saat musim kemarau dari bulan maret-september-an. katanya blue fire akan terlihat dan bisa melihat summit dari puncak gunung ijen. kemaren aku nggak lihat karena mendung dan posisi matahari yang tertutupi gunung yang lebih tinggi dari gunung ijen. tambahan, kalian bisa dapat view bagus lagi di pos baru. dari puncak ijen masih jalan lagi kurang lebih 1 KM. tanya ke penambang belerang mereka mengetahui posisi ini. oh satu lagi disana ada mas-mas mohon maaf tuna wicara tapi sangat licik. jadi dia menawarkan memfotokan tapi abis itu minta sejumlah uang. it's okay sih bukan jumlah besar tapi saya nggak suka caranya karena dia cenderung memaksa dalam memfoto dan minta uang dan hampir rata-rata pengunjung di gituin. tapi yasudahlah
turun kami menuju paltuding dan pulang ke homestay tidak ada hambatan apapun. dan kami istirahat setelah sampai homestay
Day two, setelah selesai istirahat kita berencana ke Benculuk. jadi disana hanya taman dan ada wilayah yang mirip tempat di lord of the rings tapi karena kita kelewat lelah jadi bangun jam 1 siang ditambah hujan pula. alhasil skip ke benculuk-nya dan langsung berangkat ke Baluran. waktu yang di butuhkan ke Baluran kurang lebih 2 jam dari area homestay. like first I said, jangan percaya google maps keakuratannya 80%. mungkin untuk menuju tempatnya kita bisa pakai google maps tapi jika sudah dekat lebih baik tanyakan langsung pada warga setempat. waktu kami menuju baluran pun kami nyasar sampai area kuburan dan jalan tanah. akhirnya kita kembali ke jalur awal dan tanya warga setempat dan ternyata lokasinya sudah di depan mata dari jalan utama 😓. kita disana kurang lebih hanya 1 jam karena sudah mepet maghrib ditambah kami akan menyebrang pulau dewata setelah isya.
di homestay jam set 7 malam, kami segera packing, makan malam, beribadah, dan mencari ojek menuju ke pelabuhan Ketapang. stasiun Karang Asem ke Pelabuhan Ketapang jauh dan sulit aksesnya. kalo mau mending reservasinya di stasiun Banyuwangi baru itu tinggal menyeberang saja. saat di kapal, ada bapak-bapak nyamperin kami untuk menawarkan diantar sampai ke terminal mengwi. Bapak tsb seorang supir truk pengantar S*riroti menuju Singaraja. awalnya kami ragu, namun akhirnya kami setuju untuk bareng dan membayar sejumlah uang. selain faktor kita perempuan-perempuan, terbatasnya bis menuju terminal mengwi menjadikan kami berfikir ulang untuk menolak tawaran bapak tsb. akhirnya kita berangkat menggunakan truk nya, perjalanan normalnya 4 jam dari pelabuhan Gilimanuk ke terminal Mengwi namun bapak tsb nyetir dengan sangat cepat sehingga kami hanya utuh waktu 3 jam. kami sampai di terminal Mengwi jam set 2 malam dan bermalam disana, awalnya mau bermalam di musholanya namun ternyata di kunci jadilah kita tidur di depan musholanya hahahaha it's really look like gembel 😆. kita menunggu waktu sampai jam 6 pagi untuk menggunakan trans sarbita (semacam TJ Bali) menuju terminal Ubung nah dari terminal Ubung kita harus menyambung angkot lagi yang lumayan cukup jauh bayarnya 15K. di Bali transportasi umum sedikit sulit karena trans sarbita tidak mencakup semua wilayah Bali bahkan di kotanya hanya beberapa halte saja. dari angkot tsb kita masih harus nyambung angkot lagi menuju Kuta karena nggak mau ribet jadilah kita pesen g*car menuju Kuta. jadi sebelumnya kami sudah reservasi homestay di area Kuta, hanya berkisar 300 m dari pantai Kuta.
Day three, cek in sebelum jam yang ditentukan dan untung Ibunya sangat baik mengizinkan kami masuk ke kamar sebelum jadwal cek in kami. kami menyewa motor dari motormaticbali (085278527205) disitu mas-masnya baik dan muraaaaahh. kami dapat motor vario dengan harga 50k/day jika dibandingkan dengan di Banyuwangi yang 75k/day di Bali lebih murah dan untuk Homestay juga begitu, kami di Bali dapat harga 85k/day dan di Banyuwangi 100k/day. hari ketiga ini, kami pergi ke Uluwatu. nothing special there yaa hanya memandang pantai :). untuk orang pecinta gunung seperti aku melihat pantai seperti melihat hal biasa yang tidak mengembalikan energi positif tapi desiran ombak sedikit menenangkan
Day Four, list tempat yang kami kunjungi cukup banyak pada hari ini. sehingga kami berangkat pagi-pagi. sepanjang jalan aku menyaksikan di Bali banyak orang menggunakan baju adat dan sesembahan. saat mampir makan di sebuah warung franchise (cari aman untuk makanan halal) aku bertanya pada penjual apakah ada peringatan tertentu, ternyata itu serangkaian acara adat hari galungan dan kuningan, jadi sangat ramai dijalan-jalan.
lanjuuuut, kita akan ke taman bungan gemitir. kita mensetting google maps dan si gugel melewatkan kita lewat jalan yang super ekstreeem melebihi area menuju Paltuding dengan derajat kemiringan kurang lebih 60 derajat. setelah detik detik mendebarkan kami, sampailah kami ke taman bunga gemitir namun bunganya sudah di panen dan ini adalah ZONK ketiga kami 😠kita mau melanjutkan ke danau Batur namun melihat area yang telah kita lewati dan akan kita lewati akhirnya untuk keselamatan kami merubah rencana kami yang harusnya ke danau batur dan pura besakih menjadi danau bedugul dan ubud. menuju danau bedugul kita masih melewati area ekstrim yang tidak jauh beda dengan menuju area taman bunga gemitir. pulang dari bedugul kita mensetting jalur di google maps via mobil daaaan ternyata nggak se ekstrem kalo jalur motor.
TIPS gunakan jalur mobil untuk mengarah ke tujuan karena jalurnya memang ekstrem banget
setelah dari sana kami menuju Ubud. kalo menurut aku Ubud itu seperti Malioboro di Jogja hanya saja disana brand-brand kelas dunia dan sedikit produk lokal jadi kami hanya menikmatinya sambil jalan saja. di Ubud kita ke pura teratai disitu kombinasi Pura, taman teratai, dan cafe St*rbucks. kita hanya mampir sebentar kesana kemudian kami lanjut menuju Campuhan Ridge Walk. akses menuju tempat tsb tersembunyi lewat pinggir sungai dan samping hotel kalo mencari di google maps nggak akan nemu dan kamu hanya muter-muter saja. tanya ke warga lokal. tempatnya cukup menyejukkan mata tapi tidak ada apa-apa hanya rumput dan pohon kelapa. mungkin saat itu aku kurang menikmati karena telah lelah mencari tempat tsb yang sulit. kami pulang ke Kuta dan mengembalikan motor saat malamnya, meskipun kami tinggal di dekat pantai Kuta, kami kesana setelah mengembalikan motor dan itu kondisi gelap gulita karena sudah malam.
Day five, pagi-pagi buta kita sudah siap-siap menuju teminal ubung dan dari ubung menuju pelabuhan Gilimanuk tarif bisnya 40K. sekian itu yang dapat aku share pada kalian. it is my longest post 😊 enjoy reading
pura bunga teratai
Campuhan Ridge Walk
Comments
Post a Comment